<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Setiawan Ardyanto</title>
	<atom:link href="http://setiawanardyanto.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://setiawanardyanto.wordpress.com</link>
	<description>Architecture &#38; Lifestyle</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 13:44:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='setiawanardyanto.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/bd1f21705141f855f1cfa262c9a41e89?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Setiawan Ardyanto</title>
		<link>http://setiawanardyanto.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://setiawanardyanto.wordpress.com/osd.xml" title="Setiawan Ardyanto" />
	<atom:link rel='hub' href='http://setiawanardyanto.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Image (Citra) Warna dan Implementasinya pada Bangunan</title>
		<link>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/26/image-citra-warna-dan-implementasinya-pada-bangunan/</link>
		<comments>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/26/image-citra-warna-dan-implementasinya-pada-bangunan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 04:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>@rdy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Kontraktor Bangunan]]></category>
		<category><![CDATA[Image (Citra)]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasi pada bangunan]]></category>
		<category><![CDATA[Warna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setiawanardyanto.wordpress.com/?p=571</guid>
		<description><![CDATA[Dunia ini penuh dengan warna, demikian sebuah ungkapan sebuah lagu. Semua warna di alam diciptakan demikian harmonis dan selaras oleh Sang Pencipta. Hijaunya rumput dan dedaunan, birunya langit dan lautan terasa sangat menyejukkan bagi siapapun yang memandangnya. Kita juga dapat belajar dari alam sekitar kita untuk diterapkan dalam lingkungan buatan kita (dalam hal ini adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiawanardyanto.wordpress.com&amp;blog=6217373&amp;post=571&amp;subd=setiawanardyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Dunia ini penuh dengan warna, demikian sebuah ungkapan sebuah lagu. Semua warna di alam diciptakan demikian harmonis dan selaras oleh Sang Pencipta. Hijaunya rumput dan dedaunan, birunya langit dan lautan terasa sangat menyejukkan bagi siapapun yang memandangnya. Kita juga dapat belajar dari alam sekitar kita untuk diterapkan dalam lingkungan buatan kita (dalam hal ini adalah rumah atau bangunan). Setiap warna menghadirkan image (citra) yang berbeda-beda tergantung dari konteks penggunaan dan selera kita. Sebagai contoh warna merah menyala memberikan kesan penuh semangat, keberanian, dominasi, sedangkan warna putih berkesan netral dan suci. Untuk dapat menerapkan warna yang tepat pada rumah atau bangunan, kita harus menentukan dulu konsep image (citra) yang kita inginkan. Jangan sampai image bangunan kita menjadi kacau (rancu) hanya karena kita fanatik pada warna tertentu saja, kecuali itu adalah rumah pribadi anda yang tidak mempunyai fungsi publik.</p>
<div id="attachment_592" class="wp-caption aligncenter" style="width: 412px"><img class=" wp-image-592       " title="pantai 1" src="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/06/pantai-1.jpg?w=402&#038;h=302" alt="Picture Source: www.free-wallpaper-download.com" width="402" height="302" /><p class="wp-caption-text">Picture Source: www.free-wallpaper-download.com</p></div>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh kasus adalah restoran siap saji dimana para pembeli adalah orang-orang yang benar-benar bertujuan makan/ minum kemudian langsung pergi, tentu konsep pemilihan warnanya berbeda dengan café, meskipun fungsi inti keduanya hampir sama (berjualan makanan dan minuman). Warna orange yang agak menyala akan lebih sesuai diterapkan pada restoran siap saji, karena warna tersebut mampu menggugah selera makan para konsumen. Sedangkan untuk café lebih cocok menggunakan warna-warna yang kalem (soft) dan tidak terlalu menyala plus lampu-lampu yang temaram karena orang yang datang ke tempat tersebut selain makan dan minum juga ingin bersantai sambil menikmati live music.</p>
<div id="attachment_572" class="wp-caption aligncenter" style="width: 440px"><img class=" wp-image-572  " title="Warna asli" src="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/06/warna-asli.jpg?w=430&#038;h=263" alt="Gradasi Warna" width="430" height="263" /><p class="wp-caption-text">Gradasi Warna</p></div>
<p style="text-align:justify;">Membuat kombinasi warna adalah suatu hal yang gampang-gampang susah. Perlu beberapa eksperimen dan pengalaman tersendiri. Terkadang warna yang terdapat pada brosur cat bisa berbeda setelah diaplikasikan pada bangunan (biasanya terlihat lebih muda). Anda perlu mengetahui warna cat asli yang dioleskan di atas kaleng cat. Lebih mudah apabila anda menggunakan brosur cat dimana cat asli dioleskan langsung pada brosur dan bukan hasil print. Atau anda juga dapat bertanya pada orang yang pernah menggunakan warna cat tersebut. Pada dasarnya masing-masing merk cat memiliki karakteristik tersendiri dalam aplikasinya. Untuk cat dengan harga murah mungkin anda perlu mengulang lebih banyak dibandingkan dengan cat mahal sebelum anda mendapatkan warna yang diharapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedikit tips untuk anda berdasar pengalaman pribadi saya, apabila ingin mengecat bangunan dengan warna menyala. Sebaiknya sebelum mengecat warna inti (merah, hijau, kuning, dsb), terlebih dahulu anda lakukan pelapisan cat dasar warna putih setelah bangunan di-finish acian. Setelah itu baru anda cat dengan warna yang anda inginkan. Saya jamin warna akan lebih menyala dibandingkan tanpa lapisan cat dasar. Volume cat inti yang dibutuhkan juga akan lebih efisien. Selain itu juga jangan sekali-kali mengecat bagian luar (exterior) dengan cat yang diperuntukkan untuk bagian dalam (interior), karena usianya tidak akan bertahan lama alias pemborosan biaya. Untuk dinding bagian luar sebelum dicat jangan dilapisi dengan plamur (semacam dempul untuk dinding), karena setelah terkena panas matahari dan hujan, cat pada bagian dinding tersebut akan mudah terkelupas. Apabila terpaksa memakai plamur untuk dinding bagian luar (inipun hanya boleh dilakukan pada bagian-bagian tertentu saja), sebaiknya plamur tersebut dicampur dengan lem kayu putih. Lapisan plamur seharusnya memang hanya untuk bagian interior saja.</p>
<div id="attachment_574" class="wp-caption aligncenter" style="width: 440px"><img class=" wp-image-574  " title="Gambar Warna" src="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/06/gambar-warna.jpg?w=430&#038;h=263" alt="Implementasi Warna Hijau Kontras" width="430" height="263" /><p class="wp-caption-text">Implementasi Warna Hijau Kontras</p></div>
<p style="text-align:justify;">Secara teori, kombinasi warna yang paling mudah adalah warna senada (monokromatis), misal coklat dengan krem atau merah tua dengan merah muda. Namun trend warna cat saat ini berbeda dengan tahun ’80-an yang lebih menyukai warna kalem dan tidak menyolok. Trend rumah bergaya minimalis dengan warna “ngejreng” makin digemari oleh masyarakat. Warna-warna menyala banyak yang “ditabrakkan”, meski hasilnya terkadang tidak sesuai yang diharapkan. Butuh eksperimen untuk mencapai suatu harmoni warna. Apalagi unsur subyektifitas selera sangat berperan di sini. Intinya jangan pernah takut mencoba hal baru untuk mendapatkan warna idaman anda masing-masing. Selamat mencoba dan saya siap berdiskusi dengan anda.</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>Opini: Setiawan Ardyanto</em>)</p>
<br />Posted in Arsitektur, Kontraktor Bangunan Tagged: Image (Citra), Implementasi pada bangunan, Warna <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setiawanardyanto.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setiawanardyanto.wordpress.com/571/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setiawanardyanto.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setiawanardyanto.wordpress.com/571/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setiawanardyanto.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setiawanardyanto.wordpress.com/571/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setiawanardyanto.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setiawanardyanto.wordpress.com/571/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setiawanardyanto.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setiawanardyanto.wordpress.com/571/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setiawanardyanto.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setiawanardyanto.wordpress.com/571/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setiawanardyanto.wordpress.com/571/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setiawanardyanto.wordpress.com/571/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiawanardyanto.wordpress.com&amp;blog=6217373&amp;post=571&amp;subd=setiawanardyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/26/image-citra-warna-dan-implementasinya-pada-bangunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/88ccb5708506fbf4c04c949cd4e520ee?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">@rdy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/06/pantai-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pantai 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/06/warna-asli.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Warna asli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/06/gambar-warna.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gambar Warna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekilas Sejarah Perkembangan Arsitektur</title>
		<link>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/24/sekilas-sejarah-perkembangan-arsitektur/</link>
		<comments>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/24/sekilas-sejarah-perkembangan-arsitektur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 08:47:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>@rdy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah arsitektur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setiawanardyanto.wordpress.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[Ilmu Arsitektur adalah ilmu yang selalu mengikuti sejarah perkembangan manusia. Sejak jaman manusia purba yang tinggal di goa-goa sampai abad ke-21 yang begitu modern, ilmu tersebut masih terus berkembang. Arsitektur adalah hasil dari &#8220;dialog&#8221; manusia dengan lingkungannya serta budayanya. Sejarah mencatat beberapa peninggalan sejarah seperti Piramid yang dibangun pada masa Fir&#8217;aun di Mesir, Kuil Parthenon yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiawanardyanto.wordpress.com&amp;blog=6217373&amp;post=448&amp;subd=setiawanardyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_203" class="wp-caption alignright" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-203" title="parthenon-2008" src="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/parthenon-2008.jpg?w=500" alt="Picture source: www.wikipedia.org"   /><p class="wp-caption-text">Picture source: www.wikipedia.org</p></div>
<p style="text-align:justify;">Ilmu Arsitektur adalah ilmu yang selalu mengikuti sejarah perkembangan manusia. Sejak jaman manusia purba yang tinggal di goa-goa sampai abad ke-21 yang begitu modern, ilmu tersebut masih terus berkembang. Arsitektur adalah hasil dari &#8220;dialog&#8221; manusia dengan lingkungannya serta budayanya. Sejarah mencatat beberapa peninggalan sejarah seperti Piramid yang dibangun pada masa Fir&#8217;aun di Mesir, Kuil Parthenon yang didirikan sebagai tempat persembahan bagi Dewi Athena di Yunani, Bangunan Colosseum sebagai tempat bertarung para Gladiator di Roma, Italia dan masih banyak lagi peninggalan sejarah arsitektur yang tak ternilai harganya. Pada masa lampau banyak raja, kaum bangsawan, maupun orang-orang berpengaruh yang membuat monumen-monumen untuk diri mereka sendiri. Mereka ingin dikenang bahwa mereka telah mencapai &#8220;sesuatu yang besar&#8221; melebihi orang lain di jamannya.</p>
<div id="attachment_211" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-211" title="Menara Eiffel Paris" src="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/200px-paris_06_eiffelturm_4828.jpg?w=500" alt="Picture source: www.wikipedia.org"   /><p class="wp-caption-text">Picture source: www.wikipedia.org</p></div>
<p style="text-align:justify;">Kini di jaman modern  (abad ke-21),  ilmu arsitektur telah berkembang dengan sangat pesat seiring dengan semakin majunya teknologi yang diciptakan manusia. Penemuan teknologi baru yang menunjang proses konstruksi dan pengembangan material untuk bahan bangunan juga semakin memudahkan manusia untuk mengeksplorasi ide-ide dimana pada jaman dahulu tidak mungkin dilakukan. Namun terkadang kemajuan jaman tersebut mengabaikan konteks lingkungan alam sekitarnya, sehingga seringkali hasilnya justru merugikan mereka sendiri. Penebangan liar pohon-pohon  yang menggunakan peralatan modern, pembukaan lahan permukiman secara sembarangan dengan peralatan berat dan canggih adalah contoh pemanfaatan teknologi yang tidak pada tempatnya. Hal tersebut dapat memicu bencana bagi umat manusia, seperti banjir maupun tanah longsor. Oleh karena itu kemajuan teknologi tersebut harus disikapi dengan lebih bijak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dewasa ini karya arsitektur yang indah (dalam konteks permukiman) bukan lagi milik para raja dan orang kaya saja, karena dengan teknologi yang sudah modern material bahan bangunan dapat diproduksi secara masal dengan harga yang relatif murah. Berbagai gaya bangunan dapat diadaptasikan dimana saja dan  oleh siapa saja. Bangunan bergaya Country, Mediteran, Spanyol, dan berbagai macam style bangunan mudah dijumpai di kota-kota besar di Indonesia tanpa harus pergi ke negara asalnya. Bahkan gaya bangunan minimalis yang sedang trend di Indonesia pada saat inipun adalah produk impor dari negara lain. Hal tersebut sebenarnya sah-sah saja selama tetap memperhatikan konteks lingkungan di sekitarnya. Namun terkadang yang terjadi adalah adaptasi tanpa mempertimbangkan lingkungan bangunan tersebut dibuat. Sehingga secara fungsi dan secara visual menjadi kurang optimal. Kita justru harus belajar dari bangsa penjajah kolonial Belanda dalam mensikapi pembangunan perumahan dan perkotaan di Indonesia. Bukannya memuji bangsa asing yang pernah menjajah kita selama 3,5 abad tersebut, namun mereka mampu mengadaptasikan gaya bangunan mereka ke lingkungan Indonesia, sehingga pada jaman itu terdapat gaya bangunan kolonial. Bukankah arsitektur yang ideal adalah yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitar kita. Marilah kita pikirkan bersama demi kemajuan dunia arsitektur di Indonesia. Salam.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />Posted in Arsitektur Tagged: Ilmu arsitektur, Sejarah arsitektur <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setiawanardyanto.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setiawanardyanto.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setiawanardyanto.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setiawanardyanto.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setiawanardyanto.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setiawanardyanto.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setiawanardyanto.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setiawanardyanto.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setiawanardyanto.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setiawanardyanto.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setiawanardyanto.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setiawanardyanto.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setiawanardyanto.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setiawanardyanto.wordpress.com/448/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiawanardyanto.wordpress.com&amp;blog=6217373&amp;post=448&amp;subd=setiawanardyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/24/sekilas-sejarah-perkembangan-arsitektur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/88ccb5708506fbf4c04c949cd4e520ee?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">@rdy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/parthenon-2008.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">parthenon-2008</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/200px-paris_06_eiffelturm_4828.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Menara Eiffel Paris</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Open Space (Square): Kebutuhan Ruang Kota yang Terabaikan</title>
		<link>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/23/open-space-square-kebutuhan-ruang-kota-yang-terabaikan/</link>
		<comments>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/23/open-space-square-kebutuhan-ruang-kota-yang-terabaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 17:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>@rdy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Urban Design]]></category>
		<category><![CDATA[kebutuhan ruang kota]]></category>
		<category><![CDATA[Open Space]]></category>
		<category><![CDATA[square]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setiawanardyanto.wordpress.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Makin berkembangnya sebuah kota akan berdampak pada pembangunan fasilitas prasarana fisik bagi publik yang mempunyai orientasi ekonomi, seperti pasar, mal, real estat, dan sebagainya. Namun sayangnya (di sebagian besar kawasan perkotaan yang ada di Indonesia) hal tersebut mempunyai konsekuensi yang kurang menguntungkan bagi keberadaan ruang terbuka/ open space bagi publik (dalam hal ini square). Lahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiawanardyanto.wordpress.com&amp;blog=6217373&amp;post=519&amp;subd=setiawanardyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Makin berkembangnya sebuah kota akan berdampak pada pembangunan fasilitas prasarana fisik bagi publik yang mempunyai orientasi ekonomi, seperti pasar, mal, real estat, dan sebagainya. Namun sayangnya (di sebagian besar kawasan perkotaan yang ada di Indonesia) hal tersebut mempunyai konsekuensi yang kurang menguntungkan bagi keberadaan ruang terbuka/ <em>open space</em> bagi publik (dalam hal ini <em>square</em>). Lahan bagi <em>square-square</em> tersebut banyak yang beralih fungsi dengan dalih tuntutan perkembangan kebutuhan masyarakat kota. Padahal pada kenyataanya yang terjadi adalah tuntutan ekonomi dari para pemilik modal, yang nota bene adalah golongan masyarakat menengah ke atas. Mahalnya harga tanah di perkotaan (sehingga hanya bisa dimiliki masyarakat golongan tertentu) dan kurangnya kesadaran masyarakat akan manfaat <em>square</em> menjadi faktor makin berkurangnya <em>square</em> di kawasan perkotaan.</p>
<div></div>
<div id="attachment_340" class="wp-caption aligncenter" style="width: 459px"><img class=" wp-image-340        " title="alun-alun utara" src="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/wwwvieinstylecom.jpg?w=449&#038;h=330" alt="Picture Source: www.vieinstyle.com" width="449" height="330" /><p class="wp-caption-text">Picture Source: www.vieinstyle.com</p></div>
<p style="text-align:justify;">Di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika, pemerintah dan masyarakatnya sudah sangat memperhatikan masalah ini. Banyak fasilitas ruang terbuka bagi publik yang diolah sedemikian rupa di area permukiman atau perdagangan yang padat sehingga masyarakat dapat memanfaatkan untuk berbagai macam kegiatan. Hal ini sangat berbeda dengan kawasan perkotaan di Indonesia yang sebagian besar lebih memilih untuk membangun “hutan beton” yang bernilai ekonomi tinggi namun mengabaikan kebutuhan akan <em>square</em>. Sebuah kenyataan yang patut disayangkan. Idealnya sebuah kota/ kawasan yang nyaman (<em>livable</em>) mempunyai keseimbangan yang ideal antara bangunan fisik (<em>solid</em>) dan ruang terbuka (<em>void</em>). Keseimbangan tersebut sangat relatif, tergantung dari kebutuhan masyarakatnya. Jumlah penduduk, luas wilayah kawasan kota, serta budaya masyarakat lokal merupakan beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kebutuhan <em>square</em>. Contoh kasus, di Kawasan Kraton Yogyakarta terdapat lapangan besar (<em>alun-alun</em>) yang terletak persis di depan Kraton. Pada jaman dulu <em>alun-alun </em>tersebut merupakan pekarangan tempat tinggal raja dan digunakan sebagai tempat menunggu bagi para rakyat yang ingin mengajukan permohonan kepada sang raja. Pada perkembangan selanjutnya, setelah pengaruh Islam yang disebarkan oleh Wali Songo masuk ke Jawa (± abad ke-17 Masehi), <em>square </em>tersebut digunakan setiap tahun sebagai tempat untuk perayaan pasar malam Sekaten (sampai saat ini) dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.</p>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div id="attachment_341" class="wp-caption aligncenter" style="width: 465px"><img class=" wp-image-341      " title="OPEN SPACE 1" src="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/wwwwikipediaorg.jpg?w=455&#038;h=255" alt="Picture Source: www.wikipedia.org" width="455" height="255" /><p class="wp-caption-text">Picture Source: www.wikipedia.org</p></div>
<p style="text-align:justify;">Kini di jaman modern, kebutuhan masyarakat akan <em>square</em> makin meningkat seiring dengan arah perkembangan kota. Kegiatan masyarakat kota masa kini lebih kompleks dibandingkan masyarakat kota jaman dulu. Otomatis konsep penataanya pun harus lebih ideal. Namun di sebagian besar kawasan kota di Indonesia yang terjadi malah sebaliknya. Jumlah penduduk yang besar hanya menambah permukiman yang padat dan tidak tertata serta mengabaikan keberadaan <em>open space</em> bagi publik (<em>square</em>). Padahal banyak sekali kegiatan masyarakat kota yang dapat diwadahi di area ini. Masyarakat kota dapat melakukan interaksi sosial dengan anggota masyarakat lainnya. Kegiatan olahraga, rekreatif bahkan edukatif juga dapat dilakukan di tempat tersebut. Anak-anak mempunyai tempat bermain dengan teman sebayanya, bahkan penghijauan yang sangat bermanfaat bagi paru-paru kota juga dapat dilakukan di tempat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemerintah kota dan masyarakat kota (Indonesia pada khususnya) adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap masalah penataan <em>square</em> tersebut. Keduanya harus bersinergi untuk membuat solusi. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan (aturan) dan masyarakat pada umumnya sebagai pelaksana kebijakan tersebut. Batasan-batasan peraturan dan implementasi di lapangan harus sesuai. Kawasan perkotaan bukan hanya milik para pemodal besar yang secara bebas mendirikan “belantara beton”, namun milik semua lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial. Apabila semua itu dapat terwujud dengan baik, istilah kawasan kota yang “<em>livable</em>” bukan hanya sebuah mimpi semata.</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>Opini: Setiawan Ardyanto</em>)</p>
<br />Posted in Urban Design Tagged: kebutuhan ruang kota, Open Space, square <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setiawanardyanto.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setiawanardyanto.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setiawanardyanto.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setiawanardyanto.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setiawanardyanto.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setiawanardyanto.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setiawanardyanto.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setiawanardyanto.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setiawanardyanto.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setiawanardyanto.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setiawanardyanto.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setiawanardyanto.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setiawanardyanto.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setiawanardyanto.wordpress.com/519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiawanardyanto.wordpress.com&amp;blog=6217373&amp;post=519&amp;subd=setiawanardyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/23/open-space-square-kebutuhan-ruang-kota-yang-terabaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/88ccb5708506fbf4c04c949cd4e520ee?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">@rdy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/wwwvieinstylecom.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">alun-alun utara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/wwwwikipediaorg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">OPEN SPACE 1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malioboro: Nilai yang Mulai Bergeser</title>
		<link>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/22/malioboro-nilai-yang-mulai-bergeser/</link>
		<comments>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/22/malioboro-nilai-yang-mulai-bergeser/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 12:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>@rdy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Urban Design]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Malioboro]]></category>
		<category><![CDATA[nilai-nilai yang bergeser]]></category>
		<category><![CDATA[Parangtritis]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setiawanardyanto.wordpress.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai salah satu ikon kota Yogyakarta, Malioboro merupakan aset nasional yang harus dipelihara dan dilestarikan. Dari segi pariwisata kawasan tersebut memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah, sedangkan dari segi peninggalan sejarah dan budaya sangat banyak “nilai-nilai berharga” yang perlu dipertahankan. Sejarah menunjukkan bahwa kawasan tersebut merupakan saksi perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan kolonial Belanda (Yogyakarta pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiawanardyanto.wordpress.com&amp;blog=6217373&amp;post=509&amp;subd=setiawanardyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<div id="attachment_304" class="wp-caption alignright" style="width: 309px"><img class="size-medium wp-image-304" title="malioboro-dulu2" src="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/malioboro-dulu2.jpg?w=299&#038;h=184" alt="Picture source: www.tembi.org" width="299" height="184" /><p class="wp-caption-text">Picture source: www.tembi.org</p></div>
<p>Sebagai salah satu ikon kota Yogyakarta, Malioboro merupakan aset nasional yang harus dipelihara dan dilestarikan. Dari segi pariwisata kawasan tersebut memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah, sedangkan dari segi peninggalan sejarah dan budaya sangat banyak “nilai-nilai berharga” yang perlu dipertahankan. Sejarah menunjukkan bahwa kawasan tersebut merupakan saksi perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan kolonial Belanda (Yogyakarta pernah menjadi ibukota RI di era Presiden Soekarno). Apabila kita bayangkan dengan sumbu imaginer Utara-Selatan Kota Yogyakarta, kawasan Malioboro merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan. Di sisi selatan terdapat Laut Selatan (Parangtritis) dan di sisi utara terdapat Gunung Merapi. Secara metafisik, banyak orang lokal yang mengatakan bahwa keduanya mempunyai hubungan yang erat dan tidak terpisahkan dengan keberadaan Kraton Yogyakarta.</p>
</div>
<p style="text-align:justify;">Sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda kawasan tersebut merupakan area perdagangan dan perumahan, bahkan di selatan kawasan terdapat pasar Beringharjo yang merupakan pasar terbesar di Yogyakarta pada saat itu. Seiring dengan perkembangan waktu, pada abad ke-21 ini kawasan tersebut terus berkembang mengikuti arah perkembangan kota. Namun sayangnya, perkembangan Malioboro sebagai area perdagangan tidak diikuti dengan penataan kawasan yang memadai. Kawasan tersebut menjadi semrawut tak ubahnya pasar tumbuh (organik) yang tak terkendali. Sebagai kawasan wisata perdagangan dan budaya, perlahan-lahan mulai bergeser menjadi kawasan perdagangan para pemilik modal besar. Bangunan-bangunan bersejarah yang merupakan warisan budaya, banyak yang diruntuhkan dan diganti dengan mal-mal maupun toko-toko besar yang secara fisik mulai mendominasi. Apabila dibiarkan terus-menerus, lama kelamaan tak ubahnya seperti kawasan Blok M di ibukota Jakarta. Lebih parahnya lagi banyak bangunan besar yang didirikan dengan desain yang tidak kontekstual dengan kawasan tersebut. Masing-masing bangunan seolah-olah adalah monumen bagi para pemiliknya.</p>
<div id="attachment_312" class="wp-caption aligncenter" style="width: 478px"><img class=" wp-image-312   " title="malioboro-kini" src="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/malioboro-kini.jpg?w=468&#038;h=346" alt="Picture source: www.jogjaexplore-tours.com" width="468" height="346" /><p class="wp-caption-text">Picture source: www.jogjaexplore-tours.com</p></div>
<p style="text-align:justify;">Menyelesaikan persoalan kawasan Malioboro memang memerlukan penanganan yang komprehensif (menyeluruh), karena terkait dengan banyak kepentingan. Ada aspek sosial dan budaya masyarakat setempat (Yogyakarta), aspek ekonomi para pedagang dan pemilik modal, serta aspek pariwisata dan budaya. Berbagai kebijakan pemerintah DIY telah dicoba diterapkan untuk menangani kawasan tersebut, namun hasilnya belum optimal. Berbagai sayembara penataan kawasan telah diadakan, namun implementasi di lapangan juga masih jauh dari yang diharapkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi Malioboro saat ini terasa sangat berbeda dengan Malioboro pada tahun 80-an. Saat itu, apabila kita menyusuri kawasan tersebut “ruh historis” kota Yogyakarta masih sangat terasa. Para wisatawan pejalan kaki dengan nyaman dapat menyelusuri lorong-lorong pedestrian. Suasana malam Malioboro dengan para penjual makanan lesehan benar-benar memanjakan tiap wisatawan yang datang. Namun saat ini hal seperti itu akan sangat jarang kita temui lagi. Kesemrawutan kawasan yang dijejali para pedagang kaki lima, pedestrian yang digunakan sebagai tempat parkir kendaraan bermotor, kemacetan lalu-lintas, bangunan-bangunan baru yang bermunculan tanpa mengindahkan konteks kawasan, merupakan pemandangan sehari-hari di kawasan tersebut. Wisatawan yang berkunjung ke malioboro tak ubahnya mengunjungi pasar tradisional yang kurang tertata dengan baik. Sangat disayangkan, kawasan yang menjadi ikon Yogyakarta mulai “bergeser” nilai-nilai historis dan budayanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin himbauan untuk mewujudkan kembali “ruh” Malioboro terasa sangat klise, namun penataan kembali secara menyeluruh tetap harus dilakukan, meski kendala di lapangan sangat besar. Tarik ulur kepentingan pasti akan terjadi karena banyak aspek yang terlibat. Namun apabila kita semua tidak duduk bersama, dengan lapang dada, dengan niat baik untuk menyelesaikan semua persoalan di kawasan tersebut, maka nantinya generasi penerus bangsa hanya akan mendengar dari buku sejarah bahwa di kawasan Mallioboro pernah ada kawasan wisata perdagangan dan budaya Yogyakarta yang begitu indah dan nyaman. Sebagai masyarakat yang peduli dengan sejarah dan budaya bangsanya, mari kita renungkan dan pikirkan bersama solusi yang terbaik sesuai dengan semboyan “Yogyakarta Berhati Nyaman”.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>(Opini: Setiawan Ardyanto)</em></p>
<br />Posted in Urban Design Tagged: Gunung Merapi, Malioboro, nilai-nilai yang bergeser, Parangtritis, Yogyakarta <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setiawanardyanto.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setiawanardyanto.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setiawanardyanto.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setiawanardyanto.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setiawanardyanto.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setiawanardyanto.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setiawanardyanto.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setiawanardyanto.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setiawanardyanto.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setiawanardyanto.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setiawanardyanto.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setiawanardyanto.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setiawanardyanto.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setiawanardyanto.wordpress.com/509/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiawanardyanto.wordpress.com&amp;blog=6217373&amp;post=509&amp;subd=setiawanardyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/22/malioboro-nilai-yang-mulai-bergeser/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/88ccb5708506fbf4c04c949cd4e520ee?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">@rdy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/malioboro-dulu2.jpg?w=299" medium="image">
			<media:title type="html">malioboro-dulu2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/malioboro-kini.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">malioboro-kini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Real Estate di Yogyakarta: Antara Kebutuhan dan Investasi</title>
		<link>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/20/real-estate-di-yogyakarta-antara-kebutuhan-dan-investasi/</link>
		<comments>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/20/real-estate-di-yogyakarta-antara-kebutuhan-dan-investasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 13:16:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>@rdy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Urban Design]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perumahan]]></category>
		<category><![CDATA[Real Estate]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setiawanardyanto.wordpress.com/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[Permasalahan mengenai perumahan adalah suatu permasalahan yang tidak akan pernah selesai karena menyangkut kebutuhan dasar manusia yang membutuhkan tempat tinggal. Sementara itu jumlah penduduk dunia setiap hari terus bertambah, sehingga hal tersebut mempunyai konsekuensi terhadap peningkatan jumlah lahan yang akan digunakan sebagai perumahan. Dalam kajian ini yang dimaksud dengan perumahan adalah perumahan dengan batasan kelas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiawanardyanto.wordpress.com&amp;blog=6217373&amp;post=527&amp;subd=setiawanardyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="text-align:justify;">
<div id="attachment_482" class="wp-caption alignright" style="width: 247px"><img class=" wp-image-482            " title="tugu Yogya" src="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/tugu2.jpg?w=237&#038;h=317" alt="Sumber: www.tembi.org" width="237" height="317" /><p class="wp-caption-text">Sumber: www.tembi.org</p></div>
<p>Permasalahan mengenai perumahan adalah suatu permasalahan yang tidak akan pernah selesai karena menyangkut kebutuhan dasar manusia yang membutuhkan tempat tinggal. Sementara itu jumlah penduduk dunia setiap hari terus bertambah, sehingga hal tersebut mempunyai konsekuensi terhadap peningkatan jumlah lahan yang akan digunakan sebagai perumahan. Dalam kajian ini yang dimaksud dengan perumahan adalah perumahan dengan batasan kelas menengah ke atas atau biasa disebut dengan kawasan real estat dengan tinjauan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekitar awal tahun ’90 an di wilayah Yogyakarta terjadi kenaikan sangat significant terhadap jumlah developer yang membangun real estat terutama di kabupaten Sleman dan Kotamadya yang kebetulan memiliki wilayah cukup luas dan tempat strategis paling banyak dibandingkan kabupaten lainnya. Banyak perusahaan kelas menengah maupun besar yang beramai-ramai mendirikan perusahaan real estat. Real estat bertumbuhan begitu pesat bagaikan jamur di musim penghujan pada saat itu. Namun ada fenomena yang cukup menarik dari segi konsumen. Para konsumen lebih banyak yang berasal dari luar kota dibandingkan dengan konsumen lokal. Faktor apa saja yang membuat para konsumen luar kota tersebut tertarik untuk berinvestasi di Yogyakarta?</p>
</div>
</div>
<p style="text-align:justify;">Fakta membuktikan bahwa kota Yogyakarta mempunyai daya tarik tersendiri bagi siapapun yang pernah mengunjunginya. Selain sebagai saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia, kota tersebut juga pernah menjadi Ibukota Indonesia sebelum akhirnya pindah lagi ke Jakarta. Para cendekiawan dan budayawan terkenal banyak yang berasal dan belajar di kota ini. Alamnya yang indah serta peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya masih banyak yang dilestarikan sampai saat ini. Predikat sebagai kota pelajar dengan segudang prestasi tingkat nasional dan internasional, banyak menarik minat para perantau yang ingin menimba ilmu di kota ini. Kampus-kampus dengan kualitas nasional banyak bertebaran di seluruh wilayah kota. Apalagi Yogyakarta terkenal dengan standar biaya hidup yang rendah apabila dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Hal tersebut pada akhirnya juga memicu para investor dari luar kota untuk membuat usaha di sini.</p>
<p style="text-align:justify;">Berangkat dari potensi-potensi tersebut akhirnya banyak masyarakat yang berasal dari luar daerah untuk memiliki tempat tinggal (dalam hal ini real estat) di kota ini. Banyak yang menyekolahkan anaknya untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas namun murah, sekaligus mempunyai investasi jangka panjang bagi mereka. Bahkan banyak diantara mereka yang memiliki properti real estat lebih dari satu di lokasi yang sama. Mereka begitu percaya bahwa nilai properti real estat tersebut akan berlipat ganda dari tahun ke tahun, sehingga mereka menganggap real estat bukan lagi kebutuhan dasar sebagai tempat tinggal, tapi juga sebagai kebutuhan investasi. Hal ini memicu naiknya harga tanah di beberapa bagian wilayah Yogyakarta menjadi sangat tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Bahkan terdapat beberapa kawasan real estat elit di Yogyakarta yang harga jual rumah per unitnya lebih mahal dibandingkan dengan harga rata-rata real estat di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Namun uniknya tetap saja laku keras, bahkan terkadang para developer tersebut sampai kehabisan stok. Sungguh suatu fenomena yang luar biasa untuk ukuran sebuah kota yang tidak terlalu besar dibandingkan ibukota Jakarta.</p>
<div></div>
<div id="attachment_483" class="wp-caption aligncenter" style="width: 470px"><img class="size-full wp-image-483" title="10" src="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/10.jpg?w=500" alt="Sumber: Dokumen Pribadi"   /><p class="wp-caption-text">Sumber: Dokumen Pribadi</p></div>
<p style="text-align:justify;">Gempa berskala 5,7 skala Richter yang melanda wilayah Yogyakarta pada bulan Mei 2006 cukup mengguncang dunia properti di wilayah ini. Kepercayaan para konsumen dan investor real estat di Yogyakarta sempat menurun. Daerah yang selama ini dianggap sangat aman dalam berinvestasi dan hampir tidak pernah terkena bencana alam (kecuali apabila gunung Merapi meletus) ternyata dilanda gempa yang cukup dahsyat dan merusak beberapa fasilitas umum dan banyak rumah penduduk, terutama di wilayah selatan Yogyakarta. Hal ini sempat menjadi trauma bagi masyarakat Yogya sampai beberapa bulan lamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun berangsur-angsur dalam beberapa tahun terakhir dunia properti (real estat) bangkit kembali, meski pasar properti tidak seramai dulu sebelum gempa melanda. Kemudian timbul pertanyaan dari pelaku pasar, apakah menurunnya daya beli masyarakat dipengaruhi gempa saja ataukah karena banyak faktor, misal saja karena kejenuhan pasar properti. Tentu saja semua faktor sangat berpengaruh, bahkan krisis global dunia juga sangat mempengaruhi daya beli masyarakat. Di masa krisis ini masyarakat akan lebih berhati-hati untuk membelanjakan dana mereka. Tapi diluar itu semua memang menarik membicarakan perkembangan dunia properti (dalam hal ini real estat) di Yogyakarta dari ketika awal tahun ’90 an terjadi booming sampai dengan terjadinya krisis dunia saat ini. Pada akhirnya semua kembali ke masyarakat Indonesia sebagai konsumen. Apakah mereka tetap mempercayakan investasinya di dunia properti atau beralih ke bidang lain. Namun apapun kondisinya, keberadaan real estat (khususnya di Yogyakarta) sebagai tempat tinggal (home for living) dan bukan sebagai investasi akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>(Opini: Setiawan Ardyanto)</em></p>
<br />Posted in Arsitektur, Urban Design Tagged: Investasi, Perumahan, Real Estate, Yogyakarta <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setiawanardyanto.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setiawanardyanto.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setiawanardyanto.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setiawanardyanto.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setiawanardyanto.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setiawanardyanto.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setiawanardyanto.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setiawanardyanto.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setiawanardyanto.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setiawanardyanto.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setiawanardyanto.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setiawanardyanto.wordpress.com/527/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setiawanardyanto.wordpress.com/527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setiawanardyanto.wordpress.com/527/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiawanardyanto.wordpress.com&amp;blog=6217373&amp;post=527&amp;subd=setiawanardyanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setiawanardyanto.wordpress.com/2009/06/20/real-estate-di-yogyakarta-antara-kebutuhan-dan-investasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/88ccb5708506fbf4c04c949cd4e520ee?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">@rdy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/tugu2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tugu Yogya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setiawanardyanto.files.wordpress.com/2009/02/10.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">10</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
